"Sobatku"
Air mata ini coba tuk ku tahan
Tapi butiran demi butiran akhirnya jatuh di pipiku
di usiamu yang terbilang muda
kau pergi tuk selamanya
28 Februari 2011 tepat di hari senin
Ku tak dapat melihat senyumanmu lagi
Ku tak dapat mendengar suaramu lagi
Ku tak dapat berjalan bersamamu lagi
Semuanya seakan seperti kilat
Yang begitu singkat bagiku
Sulit menerima semua ini
Kenangan-kenangan yang tersusun rapi terlewatkan
kesalahan demi kesalahan ku perbuat
Sering membuatmu sedih dan marah
Maafkan aku sobat
Ku selalu menyayangimu
Ingat padamu mudah saja
Lupa padamu teramat berat
Kau kan selalu hidup dalam hatiku
Selamat jalan sobat, I Love you Best Friend..
aku percaya janjiMu yaa ALLAH di setiap rencanaMU aku tahu itu yang terbaik bagiku _reaLIStis_
Lhilyz sayang amha kamu the!!!!!
Lhilyz AliSlany Always!!!!
ku tak akan mlupakan_muuu, slamanya>>>>
Tak ada yang kuharap lebih dari_mu....
Selain ketulusan_mu mencintai_kuuu
Dan menerima aku apa adanya
...Always...
ku tak akan mlupakan_muuu, slamanya>>>>
Tak ada yang kuharap lebih dari_mu....
Selain ketulusan_mu mencintai_kuuu
Dan menerima aku apa adanya
...Always...
Kamis, 06 Oktober 2011
Cerpen
Keteguhan Hati
Kuburan adikku baru saja ditutup. Gundukan tanahnya masih sangat basah. Didalamnya berbaring buah hati ibu dan almarhum ayah yang meninggal dua tahun yang lalu karena serangan jantung. Alif, adikku menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukanku dan ibuku. Kini tinggal aku dan ibuku.
Ia masih sangat muda, baru berusia 13 tahun. Usia dimana seorang bocah remaja tengah benar-benar aktif dan bersemangat dalam hidup. Ia bagaikan seekor ulat bulu yang sedang berubah menjadi kupu-kupu. Ibu menyaksikan proses itu ketika ia terbentuk bayi mungil kecil yang lucu dan sekarang menjadi seorang remaja bak kupu-kupu dengan dua sayap kokoh ditubuhnya. Hari-harinya penuh canda, tawa dan kegembiraan.
Dia adikku satu-satunya. Memang, setelah kelahirannya ibu tidak mengandung lagi karena sudah divonis oleh dokter. Ibu sangat bersyukur atas kehadiran kami berdua. Setelah kepergian ayah aku dan ibu bertekad akan membesarkannya dengan baik sehingga kelak menjadi pemuda yang sukses dan bahagia. Menjadi harapan kami dimasa mendatang.
Namun, semua cita-cita dan harapan kami kndas ketika di suatu siang hari yang terik, teman sekolah alif datang kerumah kami memberi tahukan Alif jatuh pingsan di sekolah dan dibawa kerumah sakit oleh gurunya. Segera kuhubungi ibu, kebetulan hari itu aku tidak masuk sekolah karena seluruh Sekolah Menengah Atas diliburkan. Ketika itu ibu sedang bekerja. Ibu adalah seorang kepala sekolah di sebuah sekolah dasar. Hatiku cemas dan gelisah. Tak pernah Alif sakit sampai pingsan begini. Paling kalau sakit ia hanya demam biasa atau flu yang lambat laun akan sehat seperti sedia kala.
Kami pun mendatangi rumah sakit tempat Alif dibawa gurunya. Diasan ada bu Yuli, wali kelasnya dan seorang guru pria beserta dua teman Alif.
“kenapa bisa sampai pingsan, bu?”
“Tadi, Alif habis olahraga. Mungkin karena capek, tiba-tiba pingsan. Tapi, sekarang ia telah membaik. Mari bu, kita lihat Alif,” ajak bu Yuli sambil meraih tangan ibu. Mengantarkan ke kamar tempat Alif dirawat.
Kami sangat cemas atas keadaan Alif. Akhirnya kami sampai dikamar tempat Alif dirawat. Ia telah siuman dari pingsan. Kulihat tubuhnya masih sangat lemah.
“Bu, sebaiknya ibu menemui dokter yang tadi menangani adik Alif. Beliau tadi minta kalau kerabat Alif datang supaya segera menemui dia,” kata bu Yuli memberi tahu.
“Mika, kamu temani Alif,” pinta ibu padaku.
Lama ibu baru kembali. Sekitar setengah jam dia baru kembali dari ruangan dokter itu. Kulihat raut muka ibu sangat kaku dan tertekan.
“Sakit apa Alif, bu? Apakah kita meski menginap disini?”.
“Mik, kita mesti ngomong sebentar,” ibu menarik tanganku keluar dari kamar Alif dirawat.
“Dokternya bilang, setelah tadi mereka periksa sepertinya Alif mengidap penyakit serius, bukan karena kecapean. Makanya ia bisa pingsan. Tapi, dia bilang itu hanya perkiraan sementara. Butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya.”
“Ya Robbi… tidak mungkin itu bu. Sudah, tidak usah diuji-uji lagi. Dokter biasanya sesuka hati, paling karena dia terlalu kecapean tadi. “segera ku tak percayah pada apa yang baru saja ku dengar. Tapi air mataku meleleh juga.
“sabar Mik,” ibu memelukku dan aku pun menangis dalam pelukannya.
Setelah melalui beberapa tes dan keluar masuk pemeriksaan, akhirnya hasil pemeriksaan kesehatan Alif pun keluar. Aku begitu terpukul mendengar bahwa hasil tes itu membuktikan bahwa Alif positif mengidap kanker otak. Aku mengangis sejadi-jadinya. Begitu juga ibu. Anak laki-laki kebanggannya mengidap penyakit mematikan! Baru tiga kali aku melihat ibu menangis. Saat ini, ketika ayah meninggal dan ketika mendiang ibunya meninggal.
Kami tidak mau putus asa. Akan kami usahakan yang terbaik untuk kesembuhan Alif. Bila perlu obat paling mahal pun akan kita cari. Kami jadi sering keluar_masuk rumah sakit satu kerumah sakit yang lain. Apa salah berkorban habis-habisan demi Alif. Sampai-sampai sekolahku terbengkalai.
Satu persatu, emas yang ibu punya habis terjual. Memang pengobatan untuk sakit kanker sangat mahal. Bahkan ibu mengambil pinjaman ditempat ia bekerja.
Tapi itu saja tak cukup. Biaya penyembuhan dan obat-obatan yang harus dibeli agar Alif sembuh masih membutuhkan banyak dana lagi. Akhirnya ibu pun menjual barang-barang elektronik yang menurut kami tidak begitu penting, mulai dari lemari es sampai televise satu persatu terjual.
Hari ini, Alif harus menjalani terapi dan uji darah. Barang yang mau dijual suadah tak ada lagi. Terpaksa, motor peninggalan ayah yang selalu ku pakai mengantar Alif ke sekolah kali ini mesti kami relakan. Alif pun menangis tersedu-sedu melihat aku pulang jalan kaki. Dia tak mau lagi berobat katanya.
“Bu, aku sudah nggak mau lagi berobat. Aku capek, Bu. Dari dulu Alif hanya diam ketika satu per satu barang dijual, namun kenapa motor peninggalan ayah juga dijual?” tangis Alif semakin menjadi-jadi.
“ah, tidak apa-apa, Nak. Besok juga kalau ada rezeki motor itu bisa dibeli lagi. Alif tahu ibu sudah tidak punya uang buat beli obat Alif dan juga gara-gara Alif sekolah kakak terbengkalai.” Alif berkata pada kami dengan suara tinggi. Dari hidungnya keluar darah segar. Kami segera melarikannya kerumah sakit.
Alif tahu kondisi keuangan ibu. Ya, pasti dia merasa berdosa karena kami yang dulunya hidup berkecukupan kini harus hidup prihatin karena sakit yang ia derita. Sakit yang membutuhkan biyaya Yang sangat besar. Penyakit ini tidak bisa diimbangi dengan pendapatan ibu yang hanya seorang kepala sekola sd di tambah dengan uang tunjangan sosial Almarhuma Ayah. Sedangkan aku hanya pelajar yang masih sangat bergantung pada ibu.
Semua tabungan ibu telah ludes, termasuk tabungan pendidikan yang ibu persiapkan untuk aku dan Alif. Nanti, setelah Alif sembuh, semua itu akan kami pikirkan lagi, yang terpenting Alif harus sembuh dulu.
Harapan itu muncul juga. Sinarnya redup-redup memang, namun harus dipertahankan. Ya, Alif dapat sembuh kembali. Tumor otaknya dapat di operasi. Meskipun dengan angka keberhasilan dibawah 50%. Ada yang dapat hidup kembali normal setelah menjalani operasi pengangkatan tumor di Jermam. Hal ini kubaca dari sebuah artikel di suatu majalah, meskipun pengetahuanku belum seberapa, tapi aku beruasaha mencari informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut.Kira-kira dibutuhkan biaya RP 700 juta untuk operasi. Ditambah ongkos pergi pulang ked an dari Jerman serta biaya hidup selama beberapa waktu disana, dibutuhkan kurang lebih RP 850 juta. Kuberi tahu hal ini kepada ibu. Ibu yang hanya seorang kepala sekolah dengan gaji yang jumlahnya tak seberapa
tak mungkin sanggup menyediahkan dana sebesar itu. Belum lagi gajinya terkena potongan karena utang kami sebelumnya untuk pengobatan Alif.
Ibu lalu mengambil keputusan untuk menjual rumah kami. Memang ini keputusan yang sangat berat, namun apakah artinya rumah dibandingkan dengan kesembuhan Alif. Mungkin dengan uang hasil penjualan rumah, separuh dari biaya itu dapat ditanggulangi namun, kekurangannya harus kami cari di_mana??
Setelah perjuangan kesana kemari kami berhasil mengumpulkdikan setengah dari tafsiran biaya yang kami butuhkan karena rumah kami sudah ada yang menawarnya RP 300 juta. Sementara, kami terus berkejar-kejara dengan waktu. Tubuh Alif semakin lemah dan tumor dikepalanya semakin parah. Terpaksa, rencana ini ibu tunda, entah sampai kapan. Tiba-tiba ibi di telfon oleh bendahara sekolah mengenai biaya pembangunan perpustakaan yang sudah keluar sebesar RP 1.5 milyar dan aku mengetahui hal tersebut. Sebuah pertanyaan meluncur dari mulutku. “ibu, bias tidak kita pakai RP 500 juta dari dana itu buat biaya perobatan Alif?.
Muka ibu langsung berubah. Ada keterkejutan sekaligus amarah yang tertahan tersirat diwajahnya.
“Mik, jangan pernah bertanya seperti itu lagi!” jawab ibu padaku. Kamu belum tahu apa-apa mengenai keuangan. hal tersebut merupakan kotupsi. Negara ini sudah terlalu hancur karena banyaknya orang yang mementingkan kepentingannya sendiri, Mika. Ibu tidak akan menghancurkan kepentingan anak-anak yang memimpikan perpustakaan itu sejak lama demi kepentingan seorang. Tolonglah, mengerti pendirian ibu. Ibu akan mencari uang itu nanti, buat kesembuhan Alif.
Aku terdiam sejenak lalu meminta maaf pada ibu, aku merasa khilaf, aku ingin Alif sembuh dari penyakitnya.
Tiga minggu sejak percakapan itu, Alif meninggal. Kami sangat terpukul. Malamnya diadakan pengajian, namun kuputuskan untuk tidak ikut pengajian, aku sangat lelah. Tepat pukul 12 malam aku terbangun. Entah mengapa ada bisikan dari hatiku untuk memeriksa kamarnya Alif. Ketika hendak memasuki kamarnya Alif, ternyata ibu ada didalam. Kulihat ia sedang memeluk foto Alif. Tangisnya sangat dalam dan menusuk hati. Ibu berkata: harapan hidupmu adalah harapan hidup ibu juga. Kematianmu adalah kematian sebagaian jiwa ibu. Ibu sangat menyayangimu!.
Hatiku terenyah mendengar tangis dan perkataan ibu. Aku masuk kekamar Alif. Kupeluk ibuku dan foto Alif.
“maafkan Mika, bu” ucapku. Kami pun berangkulan dan menangis bersama.
Hingga beberapa hari kemudian, perpustakaan tersebut selesai dibangun dan hari ini adalah peresmiannya. Aku datang mendampingi ibuku. Perpustakaannya besar dan indah. Didepan pintunya ada tulisan “Tanpa Buku Gelap Dunia”.
Kulihat anak-anak sekolah masuk keperpustakaan dengan bersemangat. Didalamnya, buku tersaji bagaikan makanan lezat yang siap disantap dan tentu sangat bermanfaat bagiku yang masih duduk dibangku SMA. Dalam hatiku berkata:”aku nyaris menggagalkan hari ini dan senyuman anak-anak ini.
“Aku sangat bangga padamu ibu”. Ucapku dalam hati. Kurasa, Ayah dan Alif juga tersenyum bangga melihat ibu dari surga.
Pidato
Assalamu Alaikum wr. Wb.
YTH. Ibu guru dan teman-teman sekalian ang berbahagia, selamat pagi.
Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah_Nya sehingga kita berkesempatan berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal afiat.
Pada kesempatan kali, saya akan membawakan sebuah pidato dengan judul “Lingkungan terjaga masa depan milik kita”
Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk selalu peduli pada lingkungan kita, baik itu di rumah, di sekolah ataupun disemua tempat dimana kita berada. Allah telah mencipakan alam seisinya untuk kesejahteraan umat sampai akhir zaman. Hal itu berarti alam ini diciptakan bukan hanya untuk kita tetapi juga untuk manusia-manusia yang akan datang. Itulah sebabnya kita harus pandai dan bijaksana dalam menjaga dan memanfaatkan sumber alam.
Teman Muda sekalian,
Sebagai generasi bangsa, kita bisa ikut berperan aktif dalam menjaga lingkungan. Kita bisa memulai dari hal yang paling sederhana, misalnya : menggunakan air secukupnya, agar cadangan air di masa mendatang tetap berlimpah, menanam pepohonan di sekitar kita, Menjaga kebersihan tempat-tempat umum dan pariwisata, buang sampah pada tempatnya atau bisa juga kita membentuk kelompok peduli lingkungan lalu kita menggabungkan diri dengan tenaga professional dan bersama-sama menjaga lingkungan kita dari kerusakan.
Teman-teman sekalian,
Masa depan kita rancang mulai sekarang kitalah penentu masa depan kita. Masa depan yang gemilang akan dapat kita genggam apabila kita mau berusaha dan belajar. Keberhasilan suatu pembelajaran di pengaruhi beberapa faktor antara lain faktor lingkungan. Lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat memberikan konstribusi yang besar terhadap kelancaran dan keberhasilan belajar. Oleh karena itu, mulai sekarang kita niatkan dalam hati kita untuk selalu menjaga lingkungan sekolah kita, agar sekolah kita selalu nyaman, sehat, dan aman untuk belajar. Mari kita buktikan bahwa kita (generasi muda) bisa di andalkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Mari kita tunjukkan bahwa kita sangat peduli pada lingkungan. Dan akhirnya mari kita perlihatkan bahwa kita adalah generasi yang bertanggung jawab.
Sekali lagi, sebagai akhir pidato saya, mari kita peduli pada alam, pada karunia Allah. Dengan menjaga dan mensyukuri nikmat Allah ini mudah-mudahan kita digolongkan sebagai orang-orang yang beruntung.
Demikian pidato saya, mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan
Wassalamu alaikum wr. Wb.
Puisi
"Kepergian Seorang Kakek"
Kadang ku menangis melihatmu
Kadang anak dan cucumu hanya mencaci makimu
Kadang kau hanya bisa membalasnya
Dengan senyuman... yaa senyuman.
Terik mentari temani siang
Indah rembulan temani malam
Begitu pula denganku
ku ingin kau menemani aku hingga akhir nanti
Namun pada saat itu
5 November 2009
Anak dan cucumu baru menyadarinya
Harapanku pun hilang
Maafkan aku yang telah lalai
yang sering membuatmu marah
Sekarang kau pergi meninggalkan kami
Untuk selamanya
Pasir rindukan gulungan ombak
Pantai rindukan kembalinya nelayan
Seperti itu ku rindukan kau
Ku rindu akan nasihat-nasihatmu
Namun apalah dayaku
Semua kehendak_Nya
Kadang ku menangis melihatmu
Kadang anak dan cucumu hanya mencaci makimu
Kadang kau hanya bisa membalasnya
Dengan senyuman... yaa senyuman.
Terik mentari temani siang
Indah rembulan temani malam
Begitu pula denganku
ku ingin kau menemani aku hingga akhir nanti
Namun pada saat itu
5 November 2009
Anak dan cucumu baru menyadarinya
Harapanku pun hilang
Maafkan aku yang telah lalai
yang sering membuatmu marah
Sekarang kau pergi meninggalkan kami
Untuk selamanya
Pasir rindukan gulungan ombak
Pantai rindukan kembalinya nelayan
Seperti itu ku rindukan kau
Ku rindu akan nasihat-nasihatmu
Namun apalah dayaku
Semua kehendak_Nya
Langganan:
Komentar (Atom)
